Senin, 25 Juni 2012

Indonesian student need character education!

hey, bosen ga sih ini gue muncul mulu disini? ya maafkan karena gue emang pelariannya kesini kalo lagi puyeng gara gara kehabisan ide dengan tugas tugas gue. oya kali ini gue mau men-share Essay gue yang gue bilang ini sangat ca-pe. ya enjoy it! jangan muntah duluan ya!


Indonesian students need character education
Mahatma Gandhi once said that one of seven serious mistakes in education is “Education without character”. It means that character is important in education aspect and also in many aspects of life. Do you remember what Indonesian characters? Actually, Indonesian characters depend on Pancasila which is the identity of Indonesian. For example, in the past all Indonesian people were united to liberate this country. They did big effort together for one goal—the independence of Indonesia—by fighting the Dutch with all their strengths. However, now, it seems that our characters are lost one by one especially among Indonesian student who are the determinant of Indonesian fate in the future. If they don’t have any of these Indonesian characters anymore it will be very dangerous for Indonesia’s future. That’s why students in Indonesia need character education.

One of Indonesian Character that must be revived is teamwork value. Most of Indonesian student don’t really like to do some teamwork for example some of my friends prefer to do group work individually. They think that by doing things alone is faster than discuss it first with other friends. Actually, it is good to do our work by ourselves or individually but if we don’t pay attention for surroundings—a place where we should communicate and do a social relation—it will make us excluded from the society. Another example is student’s brawls which happen in many places like Yogyakarta, Tanggerang, Bekasi, Denpasar, and Depok, especially in Jakarta. For instance, on 14th of May 2012, students of UKI and YAI College brawled near RSCM on Jalan Dipenogoro. They brawled in the middle of the night only because of a motorcycle and revenge other students, and it happened for several times. Another reason why Indonesian student lost their teamwork value is gadget addiction. It makes them forget to live in the real life and communicate with other people. So, what is teamwork? According to Merriam-Webster dictionary, the definition of teamwork is, “a work that done by several associates with each doing a part but all subordinating personal prominence to the efficiency of the whole”. From what the student did, they don’t show any teamwork elements. It means they don’t have any teamwork value anymore. 
The second value that must be revived is hardworking value. Do you remember how was Indonesian hero fighting for this country? They did many ways, such as Bandung’s people did a breakthrough in Bandung Lautan Api tragedy. They decided to demolished and left Bandung together. Similarly, many people in Surabaya fought for their area on 10 November 1945 by ripped the Dutch’s flag and some even fought. It’s very different from the situation right now. Most of people prefer to have an easy game today. They don’t like to have a complicated one. Maybe it is because of the changing of time. For example, in the past many students went to the library to do their homework but now they just have to search in the internet and copy some articles then collect it to their teacher. Some of them choose to copy their homework from other students instantly—they don’t check the work first but they just copy it as fast as they can because usually they do that thing in the last minute. Moreover, the development of technology also causes them to be a slacker and finally they do a plagiarism. In other words, because of technology, Indonesian students like to have an instant process.  Therefore Indonesian student need to revived the hardworking value as soon as possible, to rebuild their character before this country become poorer.

The last is good manner.  This value should be revived too. In the past Indonesian people were famed by their good attitudes internationally. We were sympathetic, kindhearted, and care. However, now these good manners cannot be found in Indonesian students any more. They respect their friends more than their parents. This condition is possible maybe because they choose a bad person as their friend who introduces them to negative things. For instance, when I was in Junior high school, my friend was very kind and respectful. One day, he met my another friend who was very naughty, consequently he became a naughty person too. Another example is my classmate; he likes to penetrate from the classroom when the teacher explaining a subject. He doesn’t like to listen to what the other tell when he acts like that. The teacher feels annoyed with his habit until the teacher reproves him but he answer back impolitely. It means he does not respect the teacher. If this happens continuously without any warnings from the teacher, he will not only get a punishment from the teacher but also be ignored by his classmates.
To conclude, character education is very important for Indonesian students because it can revive some values of Indonesian characters that have lost from their personality. The students are willing to work together with their friends and become an Indonesian student who can do a big effort with a good manner to their family, friends, and society. Therefore, good characters are very important to be owned by all of Indonesian students and it will create a better young generation for Indonesia in the future.

Sabtu, 23 Juni 2012

Missing someone is like a pain

sebenernya sangat berlebihan kalo gue bilang kangen seseorang itu kaya ngerasain sesuatu yang sangat sakit di badan. hmh. gue juga ga ngerti kenapa gue pengen nulis ini.mungkin karena gue sekarang udah gede ya dan gue udah ngerasain rasa rasa kaya gini. sering. ya, if you are missing someone you will thinking of them as many as you can. exaclty, if that feeling comes to you--you will feel uncomfortable. bayangin aja kalo iya disetiaap saat atau disetiap pekerjaan yang kita lagi kerjain kita mikirin.. em.. the someone. really.. mm..ah STOP.
Biasanya rasa rasa kaya gini muncul gara gara udah lamanya kita gaketemu atau ga kontak.. seperti sepupu gue yang udah pindah ke Bogor, dan belum lagi ketemu gue. atau marmot yang udah lama ga gue temuin. atau babeh yang sibuk kerja dan cuma bisa ketemu pagi atau engga malem.
tapi.. gue harus sadar, gue masih punya Allah di atas yang bakal denger apa yang gue pikirin. karena Allah Maha Mendengar. jadi gue banyak aja doa ama yang diatas.. biar Allah yang jagain orang orang yang gue pengen cekek itu wkwkwk-- baelah sekali gue kaya gini ya Allah sekali aja =))

bungkus ga ya-bungkus!

Jumat, 22 Juni 2012

Pak Aya

ya hey ya hey. plisbgt apabanget ya gue ini. hm. gue ini lagi nulis sambil nonton Pak Aya nyanyi Payphone-Maroon5. Hwahahahah biarin deh gue lagi ga puguh soalnya. dan perlu kalian tau kalo gue bikin itu video pas lagi gue sendiri dirumah dan entah mau ngapain. ya sedikit gila gapapa kali. eh ya, pak Aya itu.. adalah boneka. HAH? kaget kan? engga.oh yaudah. jadi.. pak Aya adalah boneka tangan punya gue yang umurnya sudah sangat tua, entah gimana caranya gue punya boneka buaya ini. pokoknya dari kecil gue udah serumah sama dia. nah gini ceritanya, gue udah lama ga ngurusin dia, lamaaaaaaa banget. tapi suatu hari gue nemuin dia di laci tempat I'am sering nyimpen mainan mainannya. nah gue bawa ke Kumpul KRIMA, dan gue pake maen. warna badan depannya kuning dan punggungnya ijo dan bermotif kaya uler. Mulutnya bisa mangap mangap dan berwarna merah, sayangnya lidahnya telah diamputasi karena kecelakaan #plisbgt. nah, gue awalnya gapunya nama buat boneka ini. tapi akhirnya gue manggil dia pak Aya. hiyahahhahahhaha biarin deh.

sebenernya, gue pengen ngasih tau kalian aja, kalo misalnya barang lama itu jangan langsung dibuang atau ditinggal atau diterlantarkan.. karena kadang kadang itu masih bisa dipake loh. aduh plisbgt ya gue ya yaampun. ah biarin dah bungkus aje

Senin, 18 Juni 2012

writing while watching

hey. ini gue baru aja selesai presentasi. dan gue masih nontonin temen temen gue yang lagi presentasi juga didepan kelas. dan ini gelap gelapan. gue juga gatau kenapa ini gelap gelapan, layaknya lagi nonton karate kid di bioskop bareng temen temen, hmph.. gue enak banget ya sekarang sempet sempetnya nulis kaya gini. ini sebenernya bentuk kelegaan gue yang udah turun panggung. sedangkan yang lain masih dag dig dug karena belum dipanggil oleh guru penguji. HaHaHaHa bodo amat gue lagi Aral maaf ya blog:) gue emang lagi ga puguh dari 3 hari kemaren, entah kenapa, gue pengen cepet besok dimana gue udah gausah lagi mikirin apa yang harus gue omongin di depan temen temen LIA dan depan Supervisor plus penguji. dan setelah ini gue bakal ngerjain tugas gue yang lain selain meluangkan waktu untuk liburan. kata apa yang ada di Ayat Al-Quran surat.. surat.. surat apa ya gue lupa.. pokonya disana disebutin kalo misalnya kita udah nyelesein suatu urusan, kerjain urusan yang lain secepatnya. ya itu yang gue inget. ya ini agak ga penting-- gapapa deh setidaknya disini gue mengingat suatu ayat Al Quran ;) dadah yumareee gue mau nanya dulu nih

bungkus ya

Rabu, 13 Juni 2012

SAY NO

HEY gue kangen. ya. UAS udah beres dan tinggal menunggu dibagiinnya rapot lalu gue bakal liburan bersama setumpuk tugas untuk acara Ramadhan Festival yang bakal diadain sama KRIMA di bulan Ramadhan nanti. gue mau cerita nih soal UAS yang baru aja gue selesain kemaren. dihari terakhir gue menjadi seorang anak yang sangat jenius dengan mengerjakan soal pelajaran terakhir dengan cepat yeah. pelajaran terakhir itu ekonomi. mm.. gue ga bisa sama sekali ngerjain soal yang kaya begitu, apalagi ada soal yang isinya itu membutuhkan rumus rumus yang luar biasa panjang. mana gue inget. jadi gue putuskan untuk ngerjain soal sebisa gue dan.. entah kenapa gue males untuk minta bantuan saat itu dan akhirnya gue membuat sesuatu saat yang lain sibuk nyari jawaban.

dan ini hasilnya:
Nah, kartu peserta gue yang awalnya sangat membosankan gue buat jadi agak sedikit berwarna




Sebenernya, itu karena gue udah nyerah dengan sesuatu yang gue ga bisa. tapi diliat liat dan dipikir pikir, ga ada salahnya kita menyerah untuk satu yang kita ga bisa lalu mengerjakan hal yang lainnya yang lebih kita kuasai. walaupun hasilnya gue dapet nilai yang ga memuaskan tapi gue sadar.. gue udah bisa nyalurin apa yang gue pengen dengan ngegambar di kartu pink itu. dan satu lagi, memaksakan sesuatu yang ga bisa kita kerjakan itu gabaik. beranilah untuk bilang TIDAK atau ENGGA daripada kedepannya bikin kita makin kesiksa. ya ga ya ga????

oke bungkus. maaf gak jelas

Jumat, 08 Juni 2012

Time oh time

hai. gue ada lagi nih nongol. gue bukan butiran debu yang susah dicari. gue ituu bantal yang sangat besar dan bawaannya kepengen di tabok mulu. apa banget aduh plis banget. hey! Essay gue udah jadi, akhirnya. ini gue abis olab. tau apa itu olab? gue yakin engga, gue juga gatau apa artinya, maaf. ga kerasa 3 bulan udah lewat semenjak gue mikirin Topik apa yang mau gue usung-mau kaya gimana Thesis statementnya-di Outline mau masukin apa aja dan mulai dengan Introductory paragraph lalu diterusin ke body sampe Conclusion. ya. gakerasa. waktu emang jalan cepet sekarang. gatau sejak kapan gue mikir kalo 5 jam itu kaya semenit, bahkan satu minggu cepeeeet banget. dan gue harus manfaatin waktu yang sangat cepet ini sebaik baiknya. kalian juga.

dan.. seharusnya gue balik kerumah sekarang, cuma gue males karena ujannya baru berenti.. ini gue lagi duduk manis di kantin LIA-BUAHBATU sendiri.. selesai nge-revisi Essay gue yang bakal gue presentasiin senin tanggal 18 juni. tuh kan lagi lagi cepet banget. ya. yaudah deh ya. gue harus pulang.

Minggu, 03 Juni 2012

Bingung sama Judul


Mata Nesa tak dapat berpaling dari sesosok pria dihadapannya. Rasanya, ingin sekali ia berteriak layaknya murid-murid sekolah dasar yang sedang berlarian di taman bermain atau paling tidak meraih kasur empuknya di kamar lalu dengan kilat melompat dan mengguling-gulingkan tubuhnya sambil terus berteriak. Tapi Nesa hanya bisa meringis bahagia dan tanpa sadar berjalan menghampiri tembok lalu memeluknya sembari terus meringis
***
Dipagi hari yang cerah.. fikiran Nesa tak dapat secerah mentari pagi yang telah tersenyum manis untuknya—ia terus memikirkan soal izin keberangkatannya besok untuk trip terakhir di pekan liburan kali ini bersama Febri juga entah siapa lagi—yang belum juga didapatkan dari Ayah ataupun Bunda. Nesa sendiri.. Fey masih dalam perjalannya dari acara tahun baru yang berbau sosial di luar kota. Nesa tidak mungkin merengek seperti anak anak taman kanak kanak yang ingin dibelikan Barbie pada bundanya, hingga akhirnya ia mendapatkan izin dengan bantuan Fey dari jauh sana.
“Bunda??? Jadi.. Nesa boleh pergi???”, Tanya Nesa
“Hmm..I..yaa.. tapi ini yang terakhir”, jawab Bunda seadanya
“Asiiiiik!!!!! Makasih Buuun!!”, Nesa setengah berteriak lalu melengos pergi untuk meraih ponselnya. Hendak mengabari Febri. Ia berlari ke kamar dengan sangat cepat, lalu segera meraih ponselnya yang tergeletak diatas meja belajar dan menjatuhkan tubuhnya diatas kasur lalu mulai mengatur kata kata dengan menggerak gerakan tangannya di atas layar ponsel dengan cepat.
“Febbbbb Nesa dapen iziiin…”, dengan cepat Nesa mengirimkannya, lalu menunggu jawaban dari Febri. Setelah beberapa saat Nesa menunggu, jawaban dari Febripun muncul.
“waaah selamt ya Neees! Tapi.. Febri ga dapet izin nes..”
Oke, Nesa kalap. Entah apa yang sekarang ia harus lakukan jika sekarang ia tahu bahwa Febri tidak dapat ikut berlibur? Dengan berbagai harapan Nesa terus bertanya pasa Febri, berharap ada yang salah dengan apa yang ia baca dalam pesan singkat tadi, tetapi nihil. Tidak ada sedikitpun kemungkinan yang dapat membahagiakannya kali ini.

Yara datang. Yara merupakan sahabat Nesa, juga Fey. Ia datang  untuk menemani Nesa dirumah, baginya hal-hal seperti ini sangat biasa—bahkan untuk bermalam dirumah Nesapun tidak lagi jadi hal yang aneh. Yara memiliki paras yang menarik, cara berbicarnya agak lebih blak-blakan jika dibandingkan dengan Nesa.
“Nes?.. Got it?”, Yara bertanya asal sambil memposisikan dirinya di atas sofa ruang tamu di samping Nesa yang sedang diam lesu
“ya.. I got it..”, jawab Nesa lesu
“lah.. kenapa lesu gitu Nes?”, Yara penasaran
“em.. ya.. gue dapet izin tapi Febri engga..”
“Hah? Febri ga dapet izin??”
“…”
“seriusan??”
“hm..”, Nesa tetap memperlihatkan kekecewaanya

Yara kembali memastikan soal perizinan yang Febri dapatkan –hasilnya—nihil. Sama saja. Tidak ada yang berubah. Nesa hanya melengos lemah melihat usaha sahabatnya ini. Kini separuh semangatnya hilang entah kemana—mungkin terbawa angin siang yang kencang di siang ini.

Tiba-tiba saja keheningan terpecahkan oleh bunyi panggilan dari ponsel Nesa, panggilan dari Reno, Nesa mengangkatnya ogah-ogahan
“Halo.. kenapa Ren?”
“Nes! Lo besok jadi ikut??”, terdengar suara Reno dari jauh
“hm..”, jawab Nesa lemas
“ooh.. gue besok gajadi ikut ya”
“kenapa?”
“males ah kaga ada duit..”
“ka ga ada duit? Apa kagak ada Febri?”
“kagak lah ah elaah”
“yaudah duitmah gampang gue talangin dulu”, Nesa menjawab sedater datarnya
“wah? Yang bener?”
“iye”
“makasih Nes!! Besok pagi gue bawain lo kado ya!!”
“kado apaan??”
“ya.. kado.. tapi jangan teriak nanti kalo gue kasih kadonya..”
“iyaa tapi kadonya apa?? Barang? Apa orang???”
“baranglah!”
“ooh.. yaudah..”
Nesa memutuskan sambungan dengan lemas, meletakan ponselnya di atas sofa
“Febri.. ga ada harapan..”, nesa bergeming, sambil merebahkan tubuhnya ke sisi kanan kursi dan memejamkan matanya lesu.
“siapa??”, Tanya Yara
“Reno..”, Nesa sedikit mengangkat kepalanya agar dapat melihat wajah Yara
“Ngapain? Terus? Hubungannya sama Febri apa??”, Yara semakin tidak mengerti
“bilang kalo ga punya duit, hubungannya sama Febri? Ga ada..”, Nesa kembali memejamkan matanya
“ah Nes.. jangan jadi bĂȘte gitu doong.. inikan liburan terakhir kita sebelum sekolah lagiii”, usik Yara mengguncang guncang lengan Nesa agar terbangun
“iya Yaaar iyaaa..”

***
Dimalam harinya, Fey tiba. Nesa menyambutnya gembira sekaligus malas, dan dengn segera menceritakan kekacauan semangatnya pada Fey. Fey hanya mengangguk angguk seperlunya tanpa banyak bicara—mungkin karena lelah dengan perjalanan yang cukup lama. Tetapi Nesa tidak berhenti berbicara, ia terus berbicara dan berfikir bahkan berkhayal. Menghayalkan berbagai kemungkinan yang bisa saja terjadi, juga menanamkan harapan-harapan kecil yang ia yakini dapat membahagiakan dirinya sendiri. Ketukan pintu menghentikan seluruh pembicaraan Nesa, ia segera berlari untuk membuka pintu. Dilihatnya Reno telah berdiri sigap dengan tas ransel besar dipunggungnya.
“lo ngapain kesini? Tripnya besok mas.. bukan sekarang..”, Nesa memperbesar bukaan pintunya
“gue mau nginep dirumah Dito, lo anter gue ya”, ucap Reno seenaknya
“dih, enak amat nyuruhnya yaa”, Nesa melengos hendak pergi tetapi kembali ke posisi semula dan berkata “eh! Ayo! Tunggu..”, Nesa kembali berbalik dan meninggalkan Reno untuk mengambil kaos kaki milik Febri juga Bila yang sempat tertinggal di trip sebelumnya. Tak butuh waktu lama agar Nesa kembali ke posisi sebelumnya dengan kunci motor plus 2 pasang kaos kaki digenggamannya. Dengan cepat ia menghampiri motor matic hitamnya yang terparkir rapi di teras dan berangkat menuju rumah Febri bersama dengan Reno.

Dilihatnya Febri keluar dari pintu utama rumahnya dengan santai, menghampirinya dan Reno yang telah menunggu beserta kaos kaki.
“nih Feb..”, Nesa melempar kaos kaki Febri perlahan hingga tiba di tangan Febri
“apaan?”, Febri sedikit kaget dengan apa yang baru saja ia dapatkan—membulak balikan matanya pada Nesa juga kaos kaki
“itu, yang kemarin Feb.. udah dicuci..”
“ooh iyaa, Makasiiiih”
“beneran gaikuuut?? “, Nesa harap ada yang akan berubah dari jawaban Febri kali ini
“iya Nes..”, Febri hanya menjawab datar
“aahhh sedih banget Feeb..”
“euum, yaudaaah gapapa ya”
“ih jangan nangis gitu Feeb”, Nesa sedikit bercanda untuk menghibur dirinya sendiri
“idih siapa yang nangiiis Nees”
“alah bilang ajaa, sedih kan ga boleh ikut sama ibuu”
“emm..”
“udahh, ayo udah maleeem, cepet anter gue ke rumah Dito”, ujar Reno terburu buru
“iye iyee, ayook, dadah Febriii jangan sediiih”, Nesa melihat wajah Febri sesaat lalu tersenyum dan bersiap untuk mengendarai motornya kembali
“bye Feb!”, ujar Reno sambil melambaikan tangannya bersemangat

Sepulang mengantar Reno juga mengantar kaos kaki ke rumah Febri dan Bila, Nesa segera menghampiri Fey yang sedang sibuk menyiapkan barang barang untuk Trip besok. Lalu Nesa berbicara panjang lebar menceritakan apa yang barusan ia lakukan—bertanya pada Febri. Fey hanya mengangguk ngagguk datar dan berkata “ka.. yaudah lu jangan puyeng puyeng, sekarang tiduur ya ka plis bgt ini udah malem”. Nesa melengos lesu dan meninggalkan adiknya itu ke kasur, meraih ponselnya dari saku celana lalu berbaring lemas. Dan bodohnya ia mengirim pesan pada Febri—sudah tau pasti Febri esok tidak akan ikut trip! Masih saja berharap!, bisiknya

Send to: Febri
Feb, moga aja yaa ibumu besok tiba tiba nyiapin barang barang plus segala perbekalan dan nyuruh Febri pergi ikut sama kita kita

From: Febri
Kayaknya gamungkin Nes L

Send to: Febri
Ih, gabolejh pesimis gitu dong Feb..

From: Febri
Yaa.. mau gimana lagi..

Send to: Febri
Optimis dong.. kali aja ada keajaiban kan Feb.. Nesa doain banget ih inimah

From: Febri
Iya deh Nes. Semoga aja yaa..

***
Pagi buta, Nesa sudah terbangun dan segera mengumpulkan seluruh energi untuk pergi, membangunkan Fey dan bergegas mandi. Tidak satu jam Nesa bersiap bersama Fey, pukul 6 mereka sudah siap untuk berangkat ke rumah Yara.
Akhirnya Nesa berangkat penuh perjuangan—karena semangatnya hilang dimakan udara pagi yang sangat sangat dingin. Di perjalanan, Nesa mendapatkan pesan dari Febri, dirinya senang kepalang lalu membukanya dan berharap ada keajaiban. Tetapi semuanya lapur karena Febri hanya menanyakan kapan ia akan berangkat dan menitip salam untuk yang lain juga sodara sodaranya yang mungkin akan Nesa temui disana. Sigh. Nesa dan Fey sampai dirumah Yara, bertemu Reno dan lima orang lainnya. Lalu Fey dan yang lainnya segera bergegas berjalan ke rumah Luthfi kecuali Nesa dan Yara. Nesa meminta Yara mengantarnya kerumah lagi untuk mengambil bekal yang tidak sengaja tertinggal. Febri terus mengirim pesan pada Nesa menanyakan kapan mereka berangkat, sedang apa disana, ada berapa orang yang datang, dan itu—sangat membuat  Nesa kehilangan semangat untuk pergi. Nesa terus mengomel sepanjang perjalanan hingga akhirnya ia kembali sampai di rumah Yara lalu segera menyusul yang lainnya di rumah Luthfi.
Sesampainya dirumah Luthfi, entah kenapa rasanya sangat bahagia melihat begitu banyak orang disana, dilihatnya dari sudut kanan hingga kiri, tapi ia tidak menemukan adanya Febri, sedikitpun tidak ada. Ya kini Nesa hanya pasrah untuk berangkat tanpa ada Febri. Reno sedang berdiri di tengah pintu yang tebuka didepan Nesa, lalu Nesa kembali melihat yang lainnya, Nesa mendengar Nathan mulai menggodanya dengan candaan yang kini membuatnya tidak mood, “Nes.. Febri manaa?? Gaikut ya?”
“heemm.. iya Naaat”, Nesa menjawab seadanya
“uuu--- sedih banget doong yaa.. cup cuup”, Nathan tertawa genit
“diih.. hm..hm..”, Nesa kembali mendapatkan Reno tepat disebrangnya sedang berdiri ditengah pintu yang terbuka, akhirnya Nesa ingat sesuatu  dan berkata, “Ren! Mana kado gue???”
“hah? Apa?”, Reno mengadahkan pandangannya kearah Nesa dan mulai mencari-cari entah mencari apa
“iyaa ihh mana kado gue. Katanya kemaren mau ngasih gue kado..”, Nesa mulai mengamuk ngamuk layaknya anak Sekolah Dasar yang tidak mendapatkan lollipop kesukaannya
“lu mau kado Nes?”, dilihatnya gerakan tangan Reno yang hendak mengambil sesuatu di balik dinding sampingnya, “nih Nes!!”, tangannya pun menarik sesuatu dari balik dinding tersebut—Orang itu orang yaa. Yang Nesa lihat adalah seseorang bukan barang..
Mata Nesa tak dapat berpaling dari sesosok pria dihadapannya. Rasanya, ingin sekali ia berteriak layaknya murid-murid sekolah dasar yang sedang berlarian di taman bermain atau paling tidak meraih kasur empuknya di kamar lalu dengan kilat melompat dan mengguling-gulingkan tubuhnya sambil terus berteriak. Tapi Nesa hanya bisa meringis bahagia dan tanpa sadar berjalan menghampiri tembok lalu memeluknya sembari terus meringis. Itu Febri! Ya itu Febri! Berdiri dengan senyum menggemaskannya, juga dengan bahasa tubuhnya yang malu malu—itu Febri. Ternyata.. Febri merencanakan ini dari hari sebelumnya, Nesa bahagia tak terhingga tubuhnya lemas seketika dan senyumnya kembali mengembang. Harapan ya sesimpel itu lagi—don’t stop hoping, believe that you can get what you want.

 #marmot'srequest:---)
ini hari minggu dan hari ini seharusnya gue siap siap buat besok UKK-- tapi gatau kenapa ini cerpen bisa gue End-in. Horaaay! tapi maaf judulnya gue belum dapet.. 
okee BUNGKUUS!