Minggu, 17 Februari 2013

Selamat Malam

Ha lo. se la ma t malam. berhubung gue abis baca postingan teteh Fya.. jadi gue mau cur to the hat malam ini. ini malem senin. hari ni malem minggu. dan ini bukan malem yang kelabu. tapi malem yang gelap. gelap buat ngeliat kalo besok adalah hari Senin yang mengharuskan gue pergi ke sekoolah di pagi hari. dengan menggembol tas berisi berbagai buku dan peralatan belum lagi embel embel titipan Ibu yang harus banget gue syukurin karena Ibu masih pengen gue sehat. dan ceria.

sayangnya badan gue udah hampir kehabisan tenaga. sampe sampe keluarga gue dirumah gak ngerti kenapa anaknya yang satu ini dirumah sangat sulit untuk tersenyum. jujur. belakangan ini gue bengong terus. dan entah ada apa di badan gue ini. gue sangat sangat CA-PE. badan gue rasanya pengen terus di kasur. makan gue gak bener karena jadwal yang padet sepadet kue apem. dan semangat gue lagi kelayapan gatau kemana. karena moodbooster gue lagi bete--garagara tangan gue ini yang kalo ngetik senaknya aja. gue harus ngapain............................................................. gue bingung dan akhirnya hal terakhir yang gue pilih adalah diem.

sebenernyaaa ini hal yang kalo di baca itu... "apasih" tapi berhubung menurut postingan teh Fya ini baik untuk kesehatan gue.. yaa gue tulis deh.. soalnya gue pengen balikin lagi semua energi gue. energi.. energi.. energi.. datanglah energi.. energi.. energeeen *eh ok bungkus!

selamat malam yang penuh angin.
dengan sangat terhormat.
Diba Zafirah Hariwijaya yg lg kangen Es Batu.
Dah!

Minggu, 03 Februari 2013

Lock Me on 2963 words


hasil gerakan tangan yang gak karuan:) enjoy the story! 

Suasana kota Bandung saat malam memang sangat padat, khususnya di berbagai titik kota yang biasanya banyak dilalui pekerja pekerja kantoran. Ini sudah tidak asing lagi bagi Lean, seorang cowok muda yang sudah menginjak umur 22 tahun dan sedang mengendarai mobil milik ayahnya yang sudah tidak digunakan sejak 2 tahun kebelakang. Lean yang berbadan kurus kecil, memiliki rambut hitam sedikit ikal, dan wajah yang lonjong ini sedang terjebak dalam kemacetan malam yang sangat membosankan. Ia hanya dapat melihat banyak lampu disana sini juga bunyi-bunyi kendaraan yang sudah membuatnya malas setengah mati untuk melanjutkan perjalanan pulang dari kantor. Tapi apa daya, ia harus tetap sabar menunggu jalannya lampu stopan yang sangat pelit memunculkan warna hijau. Setelah 2 menit berlalu akhirnya ia dapat menjalankan mobilnya dan berhasil melewati batas yang telah membuatnya lelah, pantat nya pun kini terasa sangat pegal dan matanya sudah mulai perih karena terlalu banyak melihat cahaya dari lampu kendaraan yang lain. Jalanan yang ia lalui kini semakin sepi, senyap, dan kosong hingga ia memutuskan untuk memutar satu buah kaset lama agar dirinya tidak terjebak dalam kesepian. Tangannya mencari cari kaset lama berbungkus kotak kulit ular imitasi di dalam laci sebelah kanan kemudi, agak sedikit kesulitan mendapatkannya Lean melirik sedikit kearah laci dan berusaha menangkap siluet kotak berbalut kulit ular tersebut dan langsung mengambilnya menggunakan tangan kiri sedangkan tangan kanannya tetap menggenggam kemudi. Digerakan tangan kirinya untuk menyalakan pemutar musik dihadapannya, lalu kembali ke kotak kaset yang telah terbaring di pangkuannya—membukannya lantas mengambil kasetnya—lalu akhirnya ia dengan cepat memasukan kaset tersebut kedalam pemutar, konsentrasinya mulai lengah saat ia menunggu proses dimulainya lagu pertama pada kaset itu hingga tak ia sadari bahwa rumahnya sudah dekat dan ada seorang gadis yang sedang hendak menyebrang. Lean segera menginjak rem sekuat tenaga. Khawatir sesuatu terjadi pada gadis tersebut. Ia terbelalak memperhatikan gadis tersebut yang hanya sedikit terlonjak dari posisi awalnya, lalu melanjutkan jalannya. Lean tertegun melihat gadis tersebut. Ia masih terdiam memperhatikan gadis tersebut jalan menuju rumahnya dengan langkah santai bersama buku catatan berukuran sedang yang digenggamnya lengkap dengan pulpen strawberry berbulu merah menyala. Gadis yang menggunakan celana piyama merah muda dengan motif kotak kotak berpadukan kaos tidur polos agak kebesaran tersebut berjalan santai menyebrangi  jalanan dan masuk ke dalam rumah melalui pintu samping di seberang rumah Lean, rambut sebahunya yang diikat satu seperti ekor kuda kebelakang mengibas ngibas lembut memesona. Lean terus terdiam memperhatikan punggung gadis itu yang kini telah hilang dibalik pintu.
**

Teresa mulai lelah menunggu Lean yang  telah terlambat 30 menit dari jadwal mereka bertemu hari ini. Bangku kayu yang kini ia duduki sendiri di tengah taman halaman rumah Lean sudah mengembun sebagian, sejak tadi tante Dita sudah mengajaknya masuk untuk menunggu Lean tetapi ia hanya menggeleng dan tetap duduk bersama buku catatan berukuran sedang dengan pulpen strawberry-nya. Akhirnya kesabarannya sudah habis, 45 menit yang berharga di dunia ini ia buang buang hanya untuk menunggu Lean yang sampai saat ini belum terlihat batang hidungnya. Teresa berdiri dari duduknya lalu menyebarkan pandangan untuk mencari mobil sedan starlet yang biasa dinaiki Lean—tidak ada—hingga ia dengan berat hati memutuskan untuk segera kembali kerumah yang letaknya di seberang rumah Lean. Ia menarik nafas panjang lalu mulai berjalan uring-uringan keluar dari halaman rumah. Saat hendak menyebrang, dilihatnya sebuah mobil starlet hitam melaju perlahan ke arahnya, Lean didalamnnya sedang sibuk memperhatikan entah apa di hadapannya. Teresa diam melihat kelakuan cowok labil itu lalu menggelengkan kepalanya dan menyebrang perlahan hingga membuat mobil tersebut berhenti mendadak juga isinya—Lean—panik hingga matanya terbelalak panik melihat dirinya yang tidak memedulikan dan melanjutkan jalannya menyebrangi jalan lalu masuk ke dalam rumah melalui pintu samping.

**
Lean memasukan mobilnya kedalam garasi dengan santai lalu keluar dari mobil dan menghampiri mamanya yang sedang duduk dengan secangkir teh di ruang tamu.
“hai ma..”, sapa Lean singkat sembari menggaruk-garuk rambut acak acakannya
“hai, kenapa kamu masuk? Itu Teresa di depan dari tadi nungguin tau..”, mamanya sedikit memperlihatkan wajah bingungnya
“Teresa????”, Lean kaget bukan kepalang. Ia segera memutar tubuhnya menghadap mamanya dan berkata keras “ah! Lean lupaaaaaaaaaaaa!!!! Mamaaaa gimana nih Lean lupa kalo hari ini Lean janji ketemu sama Teresa.. mamaaaaaa”, Lean meringis layaknya anak sd yang gagal mendapatkan apa yang diinginkan.
“dih.. kamu ini kebiasaan pelupa. Minta maaf sama Teresa pokonya. Ajak dia besok main terus minta maaf. Mama bantuin deh besok mama buatin cupcake buat Teresa.. gimana?”, mama menawarkan tawaran yang lumayan sambil menggodanya dengan kedipan sebelah mata.
“ma? Mama kenapa???”, Lean menggeleng-geleng kebingungan dengan tingkah mamanya itu lalu segera berlari ke lantai dua rumahnya dan memasuki kamar.

“sa…halo?”
“hm, apa?”
“ih galak amat sa…”
“….”
“sa, maafin gue……. Gue lupa…… maafin ya?”
“hm..”
“yah.. Teresaaa please forgive me for this time, next time I promise I will not be like that anymore… ya?”
“kali ini doang? Jd untuk lupanya elo yang lain gue gausah maafin gitu?”
“m…….”
“serah elu aja daeh pusing gue…” sambungan terputus
“sa? Sa? Sa? Ih……. Kenapa sih Teresa selalu bikin gue kayak gini.. kenapa coba yaampun sa.. saaa..”, Lean menggeleng-geleng pasrah. “cewek ini emang gila, gak banyak bicara tapi gue jadi banyak pertanyaan argh..”, Lean membantingkan tubuhnya kebelakang dan memejamkan matanya untuk menenangkan diri, menarik nafas perlahan dan membuangnya perlahan juga. Selewat wajah Teresa terbayang bayang dalam pejam matanya, terus berputar layaknya bianglala raksasa yang terdapat di Dunia Fantasi di Ibu Kota. Fikirannya tidak dapat mengalihkan fokusnya pada hal lain selain Teresa. Lean mulai lelah dengan segala yang ia rasakan saat ini. Iapun memaksakan diri membuka mata dan bangkit dari tidurnya. Berharap Teresa dapat pergi sebentar dari lamunannya, tapi tidak bisa sama sekali saat Lean memandang lurus ke depan dari posisinya terduduk. Tepat di depannya terpampang sebuah karton besar berlatar pelangi yang saling bertumbukan dengan tulisan lucu di tengahnya yang menunjukan namanya “my best partner : Lean” juga tulisan mungil diujung kiri bawahnya yang menunjukan bahwa itu tulisan Teresa. Ah sa.. selalu kayak gini kan, bisiknya dalam hati. Ini penyakit gue yang selalu aja kangen sama sosok aneh dan menggemaskan elu.. sa… apalagi lu marah kayak gini… gue makin ga tenang kan sa…

Lean terus terdiam dan terdiam. Di antara keheningan malam yang menyelimutinya malam ini. Suara angin yang berhembus kencang terdengar sampai telinganya. Suara suara deru kendaraan yang terasa jauh pun masih terjangkau oleh telinganya. Untuk memejamkan mata kali ini begitu berat untuknya. Rasanya sangat berat untuk langsung tertidur dengan berbagai kesalahan yang telah ia buat. Membiarkan Teresa sendiri menunggunya untuk waktu yang tidak sedikit, membiarkan semua pesan Teresa masuk tanpa ia balas satupun berarti membiarkan Teresa khawatir setengah mati akan keadaanya selama 1 bulan terakhir ini, juga hampir menabraknya dan tidak berusaha sama sekali untuk mengejarnya karena tidak ingat dengan apa yang sudah biasa mereka janjikan setiap 2 bulan sekali. Lean akhirnya bangkit dari tempat ia terduduk, mengambil gitar lama yang setia bersandar disamping lemari kayunya lalu mengantongi handphone dan segera bergegas turun kebawah menuju dapur lalu langsung mengacak ngacak kulkas guna mencari sesuatu yang sangat perlu ia bawa: Es Krim, makanan kesukaan Teresa. Setelah ia mendapatkan satu ember Es krim strawberry langkah kakinya cepat membawa dirinya kedepan rumah Teresa. Segera ia memasang gitar ditubuhnya, menyiapkan sebuah lagu lalu segera mengambil handphone dan memanggil Teresa.
“apaan lagi sih??” suara Teresa terdengar sangat marah
“sa…..”
“Apa?! Apalagi? Gue cape.. gue butuh tidur.. gue cape ngangenin elu. Gue butuh tidur. Dan setelah tidur mungkin perasaan gue baru enakan. Puas?!”
“sa! Keluar dulu bentar! PLIS!”, Lean setengah berteriak memohon pada Teresa untuk keluar dari rumah.
“……”, sambungan pun terputus
Lean melemas, ia sungguh tidak tega. Tapi tiba tiba sesosok gadis dengan piyama kebesaran yang selama ini ia rindukan muncul dari balik pintu samping rumah, menggembol sebuah boneka berkaus warna warni di tangannya dengan ekspresi wajah yang musam.
“Ap….”, bentakan yang akan keluar dari mulut Teresa tertahan saat Lean mulai memainkan gitarnya dan menyanyikan lagu You and I dari Jason Mraz dengan gaya santainya. Sesekali Lean melemparkan senyuman manisnya, Teresa tampak tertegun melihat Lean yang terus bernyanyi dengan seluruh rasa rindu yang selama ini mengusik dirinya, bahkan mulutnya mulai terlihat menganga, air mata sudah terlihat menggenangi bagian bawah matanya. Lean terus bernyanyi hingga air mata yang menggenang di mata Teresa sudah tampak jatuh sedikit demi sedikit.
you and I both…… love…..”, Lean mengakhiri Lagunya dengan petikan terakhir yang memesona, lalu tertanggah untuk memandang Teresa yang telah banjir dengan air mata dan tersenyum puas karena ia sudah berhasil melepaskan kerinduannya. Teresa berlari kearahnya dan memukulinya dengan boneka yang sejak tadi ia pegang.
“jahat! Lean jahat! lu ga pernah tau gue udah sekangen apa yan!”, Teresa terus memukuli Lean dihadapannya dan meringis entah kesal ataupun bahagia.
“maaf sa..”, Leanpun tersenyum dan menarik anak berandal yang terus memukulinya itu kedalam pelukannya. “maafin Lean ya sa, Lean terlalu sibuk sama pekerjaan yang emang lagi numpuk dan Lean selalu lupa bales sms Resa.. maaf”, Lean melepaskan pelukannya lalu sedikit menundukan kepalanya untuk menghapus air mata yang telah membanjiri wajah Teresa. Sekelibat rasa bersalah terlihat kental pada ekspresi wajah Lean, iapun mengambil seember kecil Es Krim di bawahnya lalu menarik tangan Teresa dan berjalan menuju taman di depan rumah Teresa. Merekapun duduk.
“kemana aja?!”, Teresa merengek manja sambil memakan Es Krim Strawberry-nya dengan ganas.
Lean tertawa melihat tingkah Teresa yang sangat menggemaskan itu lalu menjawab, “tuh disitu..”, matanya mengarah pada tubuh Teresa yang menandakan posisi hati.
“ah! Gombal! Sebel!”, Teresa masih tetap sibuk dengan Es Krimnya.
“udah kangennya?”
“Belum! Kangen gue gak akan ilang lang yan.. kalo ini ngeganjel dikit—bentar malah. Lean tega banget dari kemaren. Sangat. Mau ngilang tuh bilang bilang dulu! Jadi gue ga kalap dan ga stress gini nyarinnya--”
“iyaa, maaf yaa Teresa. Maafin Lean, emang kodrat cowok cuek kali ya, jadi Lean ga ngabarin Teresa dulu kalo mau sibuk dan mau fokus dulu ngerjain kerjaan yang numpuk. Tapi sms Resa terus dibaca ko.. ga lantas langsung di keluarin dan ga penting, gak sempet bales aja sebenernya.”
“mm”
“udah jangan marah lagi ya?”
“mm”
“ih kok dingin banget sih?”
“iya.. I can’t stay angry to you for a long time yan.. it hurt me so much”
“why?”
“I don’t know at all.. maybe my heart told me to do that things”
“Thanks Resa..”
“…..”, Teresa hanya tersenyum manis lalu melanjutkan suapan terakhirnya dan segera membereskan.  “yaudah, ayok pulang.. bobo. Lean pasti cape kan baru pulang kerja?”, Teresa bangkit dan menarik kedua tangan Lean agar ikut berdiri juga, tetapi Lean tetap terduduk sambil terus memandangi wajah manis Teresa yang telah kotor dengan Es Krim.  
“Gue gak ngerti bakal kayak gimana hidup gue kalo gue ga ketemu anak ini…”. Lean berkata lirih
“hah?? Ngomong apa??”, Teresa bertanya karena suara Lean terlalu tipis.
“enggak.. gak apa apa”, Lean tersenyum lalu bangkit dari duduknya dan segera menggandeng tangan Teresa lalu berjalan mengantarnya hingga ia sampai di depan pintu samping rumah. Lean mengucapkan selamat malam dan melambaikan tangan lalu membiarkan bidadarinya itu masuk kedalam rumah dan menutup pintu. Lean segera berbalik untuk kembali ke rumahnya dan memasuki kamarnya dengan lega. Lantas iapun menaruh gitar lamanya yang telah berhasil tampil untuk seorang bidadari kesayangannya malam ini, lalu berjalan gontai meraih tempat tidurnya yang Nampak sangat empuk untuk ia tiduri malam ini. Iapun tertidur.


Waktu terus berjalan, tiktoktiktok bunyi jam dinding di ruangan kantornya terus berbunyi mengusik perasaannya. Pekerjaan yang kini sedang Lean kerjakan tampak sangat sulit. Ia belum juga berhasil membereskannya sejak jarum jam menunjukan pukul 8 malam. Lean menyerah. Hari ini ia sudah punya janji bersama Teresa untuk melanjutkan komik mereka yang telah bertahan 5 tahun lamanya, semenjak mereka masih duduk di bangku SMA—masa saat perjalanan unik mereka dimulai—dan di setiap malam di tengah-tengah 2 bulan yang ada, mereka melanjutkan gambaran gambaran aneh beserta cerita cerita yang sangat sederhana tapi berarti besar bagi keduanya di depan halaman rumah Lean.  Beribu kata telah terangkai rapi dalam 5 judul  yang telah bertahan di 5 tahun ini, di tiap tahun biasanya mereka akan menjilid satu judul komik yang mereka beri judul “Kisah Putri Bandel dan Pangeran Nakal”. Hingga kini mereka telah menjilid 4 judul PBPN, dan yang satu lagi masih dalam genggaman tangan mereka. Lean segera menutup Laptopnya dan bergegas mengenakan jas hitamnya beserta tas lalu segera keluar dari ruangan menuju tempat parkir mobil. Mobil starlet hitamnya telah berembun dalam dinginnya malam. Ia segera memasukinya lalu menghidupkan mesin dan berangkat melaju menuju rumah. Teresa pasti sudah menunggu.
Decit bunyi ban yang bergesekan dengan aspal jalan dan deru mesin mobil lama sama sekali tidak mengganggu kelelapan tidur Teresa. Lean sangat iba melihat gadis manis itu tertidur lemas di atas kursi taman di halaman rumahnya sambil memeluk sebuah notes dan sebuah pulpen pink berhias strawberry diatasnya. Lean melepaskan jas dari tubuhnya segera dan menyelimuti Teresa-nya dengan hangat, lalu Leanpun terduduk memandangi Teresa yang tampak sangat lelah dan kedinginan dibalik jas hitamnya. Perlahan Lean menarik buku notes yang ada di pelukan Teresa, juga pulpen kebanggaan Teresa yang selalu menemani waktu pembuatan komik mereka ini, sebenarnya waktu pembuatan ini bukan semata untuk menyelesaikan komik-komik mereka—lebih ke waktu yang sangat diperlukan untuk Lean dan Teresa menceritakan berbagai cerita hatinya ataupun cerita yang mereka tidak tau satu sama lain—Quality Time. Lean membaca sekilas 8 bait yang berada di bagian buku paling akhir, itu berarti cerita baru setelah 2 bulan yang lalu, saat Lean melupakan janji mereka malam itu. Dengan tangkas iapun mulai menyoret nyoretkan goresan di atas buku tersebut, membentuk bebagai bentuk bentuk sederhana yang tergabung dalam satu kesatuan, juga menambahkan berbagai plot baru yang tak kalah imajinatif dan berkesan. Satu jam telah berlalu sejak ia memulai proyek komiknya malam ini, matanya mulai perih dan kesunyian juga kedinginan malam mulai menghinggapi tubuhnya. Tiba-tiba saja tangan kanannya yang terbaring lemas disamping tubuhnya terasa hangat. Genggaman Teresa pada tangannya menandakan gadis itu telah terbangun dari mimpi sesaatnya malam ini.
“resa?”, Lean membalas genggaman  tangan Teresa, membantunya bangun dari tidurnya lalu terduduk lunglai disampingnya.
“tadi sampe jam berapa yan?”, tanya Teresa dengan suara serak yang bahkan hampir belum kembali pada pita suaranya tanpa mengalihkan pandangannya yang terus lurus kedepan.
“telat 20 menit dari janji kita ketemu. Maaf res… bikin elu ketiduran ditempat dingin gini. Gue kesel sama diri gue sendiri, kenapa coba gue bikin elu kayak gini melulu belakangan ini?”
“because you have already put me in a-not important- place on your heart…”, jawab Teresa perlahan
“sa?”
“apa?”
“kenapa lu ngomong gitu?”
“that’s the truth Leaaaan… my best partner has already put me in a—not important place in his heart. That’s why you make me felt so lonely in this almost 4 month”, Teresa terdiam dengan tatapan kosong.
“no! I haven’t put you in that place on my heart res..”
“ya statement itu mungkin belum bisa keluar dengan gamblang dari mulut lu yan. Tapi dengan tindakan yang elu lakuin tanpa sengaja itulah yang sekarang ngebuat gue ngerasa jadi bukan siapa siapa lagi di sini..”, Teresa menunjuk dada Lean—tepat dimana letak hati—“di hati elu.. yan.. everygirl has their own weakness, and as long as she is a stong girl, dia gak akan kuat kalo ga diperlakuin sebagai who she is  ”, mata Teresa tidak lepas dari Lean.
Lean hanya diam memandang Teresa yang masih menatapnya tajam. “tapi gue udah berusaha nepatin janji kita terus res.. I have put you on my heart.. and you still there. I swear”, Lean mengacungkan tangannya dengan gaya peace.
“tapi Lean masih lupa.. bahkan waktu gue dengan refleksnya nanyain kabar, lu bales seadanya. Where is the old Lean? I miss him. Really.”
“res..”, Lean menarik tubuh Teresa kedalam pelukannya. Ia tak kuasa melihat Teresa yang telah diambang pecah tangisnya. “maaf resa.. maaf, gue gatau kalo selama ini gue udah berubah dimata elu. Maaf untuk beribu kata yang elu kirimin selama ini tanpa jawaban manis dari gue. Maaf untuk semua perasaan khawatir yang Resa rasain karena gue udah jarang ngabarin. Maaf juga untuk dinginnya malem yang selalu duluan nemenin elu saat nunggu gue dateng. Maaf sa maaf..”
“sampai kapan gue harus denger kata menjijikan itu yan! Sampe kapaaaan? Maaf terus ampe bodo… gue terus aja kangen sama elu yang dulu. Dan lu terus kayak gitu dengan maaf diakhirnya? Berulang ulang tanpa ada perombakan. Kayak bangunan yang rusak terus dibetulin tapi rusak lagi tau yan?”, tangis Teresa pecah. Ia terisak dalam pelukan Lean yang tertegun memandang kesunyian malam, “lama lama gue jadi kebal dengan kata maaf. Gue selalu coba ambil hikmah dari ini semua yan selalu.. mungkin Tuhan pengen gue lebih sabar, mungkin Tuhan pengen gue lebih hebat lagi dalam mengatur emosi gue. Mungkin. Mungkin juga Tuhan pengen gue lebih mandiri. Tapi gue juga punya batas kesabaran.. emosi.. bahkan kemandirian. Gue kangen sama Lean yang dulu yan. I miss you so bad!”, Teresa melepaskan pelukan Lean dan memandang Lean dengan mata sembab. “so bad..”, wajahnya melemas.
“sa. I have locked you on my heart. Iya naluri gue emang  kadang leor.. layaknya cowok cowok lain. Tapi gue inget. Jauh di dalem hati gue. Gue udah punya Teresa yang akan jadi wanita pendamping gue nanti. Who can make my life become brighter. Dari semua hal hal kecil yang selalu elu ingetin sama gue.. dari semua hal hal kecil yang elu lakuin tapi cukup untuk ngebuat gue tersenyum.. cukup untuk menaikan mood gue dalam ngejalanin berbagai tugas.. dari semua pidato elu yang ngingetin gue saat gue mulai bertindak salah.. dari semua pelajaran yang elu cicil sedikit sedikit ke otak gue..dari semua hal hal sederhana yang elu buat khusus untuk gue.. that’s you! Orang paling aneh yang beda dari semua perempuan yang selama ini gue kenal. Perempuan yang gak sama sama perempuan yang biasanya. That’s you! For me”, Lean menghapus air mana Teresa perlahan, “believe me. I have locked you! my Teresa
“………”,Teresa diam. Matanya tidak lepas dari mata Lean. Cinta itu gak harus selalu manis ya, tapi gimana keyakinan yang ada didalemnnya yang jaga itu semua. Gue gakperlu banyak diperhatiin ataupun dimanja kayak dulupun..he still be my great Lean who keep me in his heart after God-Mom-Dad-and Family. Teresa pun tersenyum.

-Diba Zafirah Hariwijaya-