Pages

Jumat, 02 Oktober 2015

Penyakit (Cerita tinggal Aku sendiri di Bandung)

pagi ini, harus ngerjain tugas sketsa proyek sekitar 5 gambar, dan ngeberesin konsep Desain Interior.
waktu  waktu ini adalah waktu kritis dimana Aku biasanya kambuh penyakitnya.
apa penyakitnya? penyakitnya adalah...
penyakit begadangku adalah tiba tiba keingetan Teteh, Aa, sama Debi, plus Babeh yang lagi diluar kota untuk menuntut ilmu juga kerja.
belum lagi Ibu lagi ke Depok buat pertemuan orang tua murid buat Adek.

Penyakitnya adalah nangis, rasanya kangen. padahal baru aja kemain semuanya pulang, kumpul waktu Idul Adha. sekarang udah kosong lagi.

disamping rasa kangen, ada rasa salah.
ngerasa bersalah buat cuma bisa jadi kayak gini disini, teteh selau bilang, Aa, Adek, Ibu sama Babeh, aku bukannya gak bisa apa apa tapi aku cuma "emang jalannya disitu". tapi hati selalu terus ngerasa bersalah buat gak bisa ngebanggain Ibu sama babeh Teteh, Aa, dan Adek dengan masuk perguruan tinggi yang terbaik dan berusaha untuk struggle disana. diantara semua, bidangku adalah yang paling ngeribetin. diantara semua bidangku adalah yang paling beratin. diantara semua bidangku adalah yang paling keliatan "ngapain sih?" dan "waaaw" doang. diantara semua, bidangku adalah yang gak paling sering buat harus baca buku. diantara semua...

ngebanding bandingin terus gak akan ada abisnya. bersyukur harus jadi apa yang aku lakuin dari dulu buat semua jalan yang udah Allah kasih ini.

ini penyakitnya. kalo malem malem lagi begadang sendirian, ya ini penyakitnya...

nangis inngsreuk-ingsreukan (baca:tersedusedu) karena ngerasa sepi gak ada Teteh, Aa, sama Adek.

Selasa, 15 September 2015

Kuat, lebih dari kamu! (cerita Kembaran merantau II)

Halo, selamat malam menjelang pagi.

bukannya ngerjain tugas studio terpenting di semester ini, malah mampir kesini.

malam ini dibuat nangis sama kembaran.
sewaktu lagi nyalain komputer untuk searching soal "Desain Interior", "One Room Apartment", dan "Jurusan Gizi" kembaranku nge-LINE. nanya lagi apa, dan ngabarin kalo dia baru sampe di kost-an nya di daerah margonda, Depok.

lalu, sambil sedikit sedikit buka jendela google, diapun curhat, curcol, cerita. tentang beberapa tekanan yang ada disana. disana yang sendirian, disana yang gak ada siapa siapa, disana yang, jauh dari rumah, dari Ibu, dari Babeh, dari kakak kakaknya, dan dari Aku.

entahlah. cerita dia bikin aku ngerasa, bener bener kecil. gak ada apa apanya, dibanding dia.

lalu, cuma nangis, dan nangis.

kondisi yang bener bener beda sama disini maksa Adek buat jadi anak yang mandiri, kuat, pantang nyerah, dan keras. dulu, disini, di Bandung, Adek ku cap sebagai anak manja yang agak kurang gaul dan pemalu tapi punya mimpi besar. sekarang Ade bukan lagi anak manja yang kurang gaul dan pemalu.

Adek udah tumbuh jadi cewek mandiri, yang gaul, dan berani--yang udah mulai nyicil mimpi besar nya dengan nuntut ilmu di Universitas nomor 1 di Indonesia.

Nomor 1 di Indonesia.

di Indonesia. 

di negara ini.

yang punya 32 provinsi.

dan ribuan pulau didalemnya. 

nomor 1 di sini.

disini. 

dia udah ngalahin ribuan orang. 

dia

Kuat, lebih dari......

Aku. yang cuma bisa nulisin betapa aku kagum sama dia disini.

Senin, 31 Agustus 2015

Kangen? (cerita Kembaran merantau I )

rasanya, sepi.
rasanya, gak ada tempat buat melepas semua beban yang buat kepala ini berat.
rasanya, ada yang ilang.
rasanya, kok aneh ya?
rasanya, bener bener beda.

sadar, pada akhirnya, kami bakal terpisah, kami bakal sendiri sendiri.
teteh bilang, nanti juga akan ada waktunya kita emang masing masing.

berlebihan, iya. 
gak lagi pulang dari kampus cerita, ngotorin kamar debi.
kamar debi kosong.
cuma ada cancan(boneka terbesar yg debi punya) di kasur, tiduran.
galagi diusir waktu lagi cerita karena debi harus belajar dengan setumpuk soalnya.
galagi berjamjam, ngomong kayak radio kelebihan batre.
galagi lupa makan karena keasikan cerita.
galagi ngelawak ceritain soal kejadian aku-senior-temen temen waktu dimarah marahin, disembur asep rokok, ataupun diteriakin.

Debi, sekarang udh jadi mahasiswi di Universitas Indonesia. bener bener banggain. bener bener bikin aku jd sangat kecil. ini hasilnya, setelah dia setahun kesepian dan cuma bareng buku soal dan tempat les. ini hasil dia usir usir aku setiap aku cerita. ini hasil dia nolak waktu aku ajak dia main. ini hasil dia ngehindar dr berbagai kegiatan seru yg aku tawarin. ini hasil dia trs berdoa sama Allah buat jadi orang yg berguna buat orang lain. 
dia, bener bener hebat, kayak yang pernah kubilang, dia kembaranku yg paling hebat. 
buktinya, dia bisa ngalahin aku yang kata dia "apa yg tehdib gakbisa" "tehdib itu hebat, jago apapun" "edan tehdib". see? usaha dan doa bakal sebanding sama hasilnya. linier. sejalan. kalo usaha kamu besar, doa kamu besar. yg kamu dapatpun bakal besar. noted.

balik lg sm aku.
hari ini hari pertama di bulan september. 
pagi pagi gini, belum bisa tidur, entah karena terbiasa tidur larut karena harus dekor di kampus atau ngurus surat dan bla bla bla, atau beneran ini karena kangen.
mungkin aku kepingin banget cerita. 
tapi, kembaranku gak lagi dikamarnya.
dia di Depok. 
butuh 3 jam buat aku temu muka sama dia dan cerita, jadi, aku harus tidur sekarang, sebelum air mata ini terus turun dan buat mataku bengkak di pagi nanti. 

berlebihan, iya.  
cuma bandung-depok.
cuma butuh 3-4 jam.
mungkin karena kami kembar yang selalu bareng bareng?
rasanya bener bener sepi, walau ada ibu sama babeh yang sekarang sangat berlebihan perhatiannya. 
rasanya, sepi. rasanya, kangen. wle.



Sabtu, 20 Juni 2015

Am I that "nyenengin" ?

malem ini buka e mail dan dapet pemberitahuan di facebook, kakak yang men-tag saya di sebuah cerita

katanya : "Diba tetiba inget kamu de.i smile and laugh alot when u're around:p "

ini kutipan ceritaanya:

"
TENTANG CINTA DAN JARAK
Hari ini Kalky mengajukan pertanyaan sederhana namun membutuhkan keseriusan saya untuk menjawabnya.
“Dad, why do you love me?” Tanya Kalky.
Saya hanya bisa tersenyum mendengar pertanyaan anak berusia empat tahun ini. Dalam hati, saya bertanya-tanya apa yang terbersit di pikirannya sehingga terdorong mengajukan pertanyaan itu kepada saya…
Mengapa saya mencintainya? Setelah mendarat di pikiran, pertanyaan itu seketika menggali dalam sekali hingga ke perasaan.
“Maybe because you are my son,” jawab saya. Standard. Saya seperti mendadak bodoh untuk memberikan jawaban yang memadai kepada anak ini. Satu-satunya jawaban yang saya punya adalah logika sederhana bahwa seorang ayah memang harus menyayangi anaknya.
Seperti anak kecil kebanyakan, Kalky sebenarnya tak terlalu mementingkan jawaban apa yang akan ia dapatkan setelah pertanyaan super sulit yang ia ajukan. Ketika mendengarkan jawaban saya, ia sedang duduk di paha kanan saya dengan dua kakinya menggantung. Tanpa merespons apa-apa, ia hanya menggoyang-goyangkan kakinya dengan riang. Matanya berbinar.
“Why do you love me, Kal?” Saya mengembalikan pertanyaan itu kepada anak saya. Ingin tahu juga apa alasannya untuk mencintai saya.
“Because I’m happy!” Jawab Kalky. Spontan.
Tipikal jawaban anak kecil, pernyataan Kalky barusan begitu sederhana dan tak mengada-ada. Tetapi rasanya seperti ‘keluar jalur’ juga… jawaban Kalky seolah menggambarkan suasana hati dan pikirannya yang lain, yang di luar konteks pertanyaan asli yang saya ajukan. Mungkin saya perlu menggalinya lebih dalam lagi.
“What makes you happy?”
Kali ini Kalky tampak berpikir. Kakinya terus bergoyang-goyang. “I’m happy when you are around.” Jawabnya kemudian. “Because you gave me a lot of toys… Because you love Mami and Kemi!”
Saya kembali dibuat tersenyum oleh jawaban anak ini. Tetapi jawabannya yang pertama begitu membuat saya bahagia. Ternyata dia bahagia jika saya ada di dekatnya.
Percakapan saya dan Kalky kali ini memberi saya sebuah kesadaran baru tentang cinta dan jarak. Pernah menjalani ‘long distance relationship’ bersama Rizqa selama bertahun-tahun, saya sebenarnya termasuk orang yang percaya bahwa cinta tak akan terpengaruh oleh jarak… Pada titik tertentu, cinta bahkan bisa mengabaikan jarak. Saya pernah berpendapat bahwa jauh-dekat cinta akan sama saja jika kita pandai menjaganya.
Namun, kali ini tampaknya keyakinan saya goyah oleh percakapan bersama Kalky. Betapa jarak sebenarnya memiliki peranan sangat penting dalam membangun dan mempertahankan sebuah perasaan bernama cinta. Betapa jarak sangat penting untuk membuat kita mengerti bahwa cinta tak perlu alasan apa-apa jika kita bisa merasakannya dalam jarak yang bisa kita terima.
Banyak orangtua yang merasa ‘tidak apa-apa’ tidak selalu dekat dengan anak-anak mereka yang penting cintanya tetap terjaga. Banyak suami atau istri yang berpikir ‘tidak apa-apa’ berjauhan yang penting tetap bisa membahagiakan pasangan. Tetapi rasanya cinta yang tak memedulikan jarak adalah cinta yang egois. Mungkin kita merasa ‘tidak apa-apa’ tetapi apakah orang yang kita cintai juga merasa ‘tidak apa-apa’ jika kita tidak di dekatnya?
Tiba-tiba ada perasaan bersalah yang muncul di hati saya. Berapa jam waktu yang saya miliki sehari untuk bisa berada di dekat istri saya? Berapa lama momen yang saya punya untuk bersama dengan anak-anak setiap harinya?
Sore ini, saya mengantar Kalky ke sekolah renangnya. Kami tiba 15 menit lebih awal dari waktu seharusnya. Membuat kami hanya berdua saja di tepi kolam menunggu instruktur dan teman-teman Kalky yang lainnya. Sepanjang perjalanan menuju tempat ini, ternyata kami juga melewati banyak kebersamaan yang penuh kebahagiaan di dalamnya—sesuatu yang sering kami miliki tetapi rupanya jarang saya maknai.
Rasanya saya ingin merayakan waktu berdua yang sangat berharga ini, waktu di mana cinta dan jarak bersatu, waktu di mana saya bisa mengerti mengapa Kalky bisa memaknai cinta sebagai sebuah pernyataan: I am happy because you are around!
Melbourne, 15 Juni 2015
FAHD PAHDEPIE
"

Senin, 25 Mei 2015

Subhanallah

dapet, dari post Aupi di LINE, check this out

Husband: Have you prayed Asr?
Wife: No.
Husband: Why?!
Wife: I got back from work tired a bit so I took me a nap.
Husband: Ok... Go pray Asr and Maghrib before its time for Isha.
The next day... the husband leaves town on a business trip... But a few hours after his flight was scheduled to arrive he didn't call or even text her like he usually does to let her know that he had arrived safely..!!
The wife calls to check up on her husband but he doesn't pick up.. she calls again; the phone rings but no reply what so ever..!!
She was starting to get worried after many attempts of calling her beloved husband and no reply at all... She thinks to herself something must have went wrong he never does that. He always calls as soon as he lands..!!
A few hours pass by... and suddenly the phone rings and its the husband.
Wife all worried says: have you arrived safely..!!??
Husband: Yes, Alhamdulillah.
Wife: When?
Husband: About 4 hours ago.
Wife in an angered tone: 4 hours ago? And you don't call?
Husband: I was tired so decided to take a nap.
Wife: A few minutes wouldn't have hurt you if you were to call me and let me know you'v arrived..!! Plus haven't you heard the phone ringing over and over again as I was calling you..!!??
Husband: Yes, I heard it..
Wife: And you don't pick up..!!?? What are my calls not important enough for you..!!??
Husband: You're calls are important to me, but yesterday you didn't seem to mind not answering the calls of Athan.. Allah's call...
Wife with watery eyes and after a short silence says: Yes, you have a point.. I'm sorry..
Husband: Why are you apologizing to me? You should seek Allah's forgiveness and don't repeat the same mistake twice. All what I want out of this world is that Allah unites us both in a palace in Jannah where in it we can start our eternal life together..
Ever since that day the wife never delayed any of her prayers.
The one who truly loves you is the one who pushes you forward on your path to Allah and gets in your way and stops you from going backwards in life.