Sabtu, 20 Juni 2015

Am I that "nyenengin" ?

malem ini buka e mail dan dapet pemberitahuan di facebook, kakak yang men-tag saya di sebuah cerita

katanya : "Diba tetiba inget kamu de.i smile and laugh alot when u're around:p "

ini kutipan ceritaanya:

"
TENTANG CINTA DAN JARAK
Hari ini Kalky mengajukan pertanyaan sederhana namun membutuhkan keseriusan saya untuk menjawabnya.
“Dad, why do you love me?” Tanya Kalky.
Saya hanya bisa tersenyum mendengar pertanyaan anak berusia empat tahun ini. Dalam hati, saya bertanya-tanya apa yang terbersit di pikirannya sehingga terdorong mengajukan pertanyaan itu kepada saya…
Mengapa saya mencintainya? Setelah mendarat di pikiran, pertanyaan itu seketika menggali dalam sekali hingga ke perasaan.
“Maybe because you are my son,” jawab saya. Standard. Saya seperti mendadak bodoh untuk memberikan jawaban yang memadai kepada anak ini. Satu-satunya jawaban yang saya punya adalah logika sederhana bahwa seorang ayah memang harus menyayangi anaknya.
Seperti anak kecil kebanyakan, Kalky sebenarnya tak terlalu mementingkan jawaban apa yang akan ia dapatkan setelah pertanyaan super sulit yang ia ajukan. Ketika mendengarkan jawaban saya, ia sedang duduk di paha kanan saya dengan dua kakinya menggantung. Tanpa merespons apa-apa, ia hanya menggoyang-goyangkan kakinya dengan riang. Matanya berbinar.
“Why do you love me, Kal?” Saya mengembalikan pertanyaan itu kepada anak saya. Ingin tahu juga apa alasannya untuk mencintai saya.
“Because I’m happy!” Jawab Kalky. Spontan.
Tipikal jawaban anak kecil, pernyataan Kalky barusan begitu sederhana dan tak mengada-ada. Tetapi rasanya seperti ‘keluar jalur’ juga… jawaban Kalky seolah menggambarkan suasana hati dan pikirannya yang lain, yang di luar konteks pertanyaan asli yang saya ajukan. Mungkin saya perlu menggalinya lebih dalam lagi.
“What makes you happy?”
Kali ini Kalky tampak berpikir. Kakinya terus bergoyang-goyang. “I’m happy when you are around.” Jawabnya kemudian. “Because you gave me a lot of toys… Because you love Mami and Kemi!”
Saya kembali dibuat tersenyum oleh jawaban anak ini. Tetapi jawabannya yang pertama begitu membuat saya bahagia. Ternyata dia bahagia jika saya ada di dekatnya.
Percakapan saya dan Kalky kali ini memberi saya sebuah kesadaran baru tentang cinta dan jarak. Pernah menjalani ‘long distance relationship’ bersama Rizqa selama bertahun-tahun, saya sebenarnya termasuk orang yang percaya bahwa cinta tak akan terpengaruh oleh jarak… Pada titik tertentu, cinta bahkan bisa mengabaikan jarak. Saya pernah berpendapat bahwa jauh-dekat cinta akan sama saja jika kita pandai menjaganya.
Namun, kali ini tampaknya keyakinan saya goyah oleh percakapan bersama Kalky. Betapa jarak sebenarnya memiliki peranan sangat penting dalam membangun dan mempertahankan sebuah perasaan bernama cinta. Betapa jarak sangat penting untuk membuat kita mengerti bahwa cinta tak perlu alasan apa-apa jika kita bisa merasakannya dalam jarak yang bisa kita terima.
Banyak orangtua yang merasa ‘tidak apa-apa’ tidak selalu dekat dengan anak-anak mereka yang penting cintanya tetap terjaga. Banyak suami atau istri yang berpikir ‘tidak apa-apa’ berjauhan yang penting tetap bisa membahagiakan pasangan. Tetapi rasanya cinta yang tak memedulikan jarak adalah cinta yang egois. Mungkin kita merasa ‘tidak apa-apa’ tetapi apakah orang yang kita cintai juga merasa ‘tidak apa-apa’ jika kita tidak di dekatnya?
Tiba-tiba ada perasaan bersalah yang muncul di hati saya. Berapa jam waktu yang saya miliki sehari untuk bisa berada di dekat istri saya? Berapa lama momen yang saya punya untuk bersama dengan anak-anak setiap harinya?
Sore ini, saya mengantar Kalky ke sekolah renangnya. Kami tiba 15 menit lebih awal dari waktu seharusnya. Membuat kami hanya berdua saja di tepi kolam menunggu instruktur dan teman-teman Kalky yang lainnya. Sepanjang perjalanan menuju tempat ini, ternyata kami juga melewati banyak kebersamaan yang penuh kebahagiaan di dalamnya—sesuatu yang sering kami miliki tetapi rupanya jarang saya maknai.
Rasanya saya ingin merayakan waktu berdua yang sangat berharga ini, waktu di mana cinta dan jarak bersatu, waktu di mana saya bisa mengerti mengapa Kalky bisa memaknai cinta sebagai sebuah pernyataan: I am happy because you are around!
Melbourne, 15 Juni 2015
FAHD PAHDEPIE
"